AIR ITU MENGALIR

Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan? Di dalam kedua surga itu ada dua buah mata air yang mengalir. QS. Ar – Rahman Ayat 49-50

Membuat 3D Map Semarang dengan Google SketchUp 8

Google membuat program Google SketchUp yang memungkinkan orang di seluruh dunia untuk membuat berbagai macam model bangunan 3D

Menampilkan Foto Toponimi di ArcGIS 10

Dengan perkembangan gasetir (basis data toponim) dijital dan teknologi pencarian data, keberadaan toponim menjadi lebih dibutuhkan. Gasetir harus bisa menjadi spatial identifier terhadap data nama-nama geografis.

Klasifikasi Kedalaman Laut Pesisir dengan ArcGIS 10

Dengan ArcGis 10 kita dapat membuat peta kedalaman laut pesisir sementara dengan cepat, karena tidak semua peta yang kita butuhkan semua tersedia dalam bentuk digital masih banyak data-data dalam hardcopy (analog).

Menghitung Volume Galian dan Timbunan Untuk Rencana Pertambangan dengan AutoCad Land Development (ALD)

Dalam pekerjaan tanah (earthwork) Teknik geodesi,antara lain banyak diperlukan perhitungan volume tanah, baik untuk pekerjaan galian (cut) maupun pekerjaan timbunan (fill).

Showing posts with label Teknik Geodesi. Show all posts
Showing posts with label Teknik Geodesi. Show all posts

Friday, June 5, 2015

Mengenal dan Mengetahui Informasi dalam Sertifikat Tanah


Halo sahabat geodet, pada posting kali ini saya akan memposting sedikit ilmu yang mungkin juga sudah sahabat dapatkan di perkuliahan Pendaftaran Tanah atau Hukum Agraria. Dimana ilmu ini mungkin akan berguna jika sahabat geodet nantinya bekerja di BPN, atau PU. Mungkin terlihat sepele, tapi untuk saya sendiri juga baru belajar membaca sertifikat. Tuntutan pekerjaan yang mengharuskan saya pandai dalam membaca dan menganalisa sertifikat tanah. Berikut hasil searching2 dari mbah google, jika ada kesalahan mohon koreksinya gan... :)

Sertifikat tanah adalah surat keterangan tanda bukti kepemilikan hak atas tanah pada kawasan dengan luas tertentu yang telah disebutkan dalam sertifikat tersebut. Di indonesia saat ini sertifikat dikeluarkan oleh Badan Pertanahan Nasional.



Berikut saya paparkan sedikit tentang format sertifikat tanah beserta keterangan dan informasi yang tertera didalamnya. Secara fisik sertifikat tanah berbentuk seperti buku yang terdiri dari sampul dan isi.

A. Sampul Sertifikat,
Keterangan :
1. Pojok kanan atas terdapat tulisan Daftar isian yuridis, DAFTAR ISIAN 206 = yang menunjukan bahwa ini merupakan Sertifikat hak atas tanah, DAFTAR ISIAN 205 = Buku Tanah, DAFTAR ISIAN 207 = Surat Ukur, dll
Surat Ukur
2.  Pada sampul depan tertulis dengan huruf besar BADAN PERTANAHAN NASIONAL ini menunjukkan yang mengeluarkan adalah badan petanahan nasional (BPN).
3.Terdapat gambar garuda pancasila ini melambangkan bahwa buku tanah ini berlaku di Negara Indonesia.serta segel jilid buku yang juga bercapkan garuda pancasila.
4. Tertera tulisan SERTIPIKAT (Tanda Bukti Hak) menunjukkan bahwa buku ini adalah jenis buku sertifikat atas hak kepemilikan tanah.5. Tertera tulisan SERTIPIKAT menunjukkan bahwa buku ini adalah jenis buku sertifikat.
5. Di pojok kiri bawah terdapat no Blangko. No ini biasanya tercetak pada masing2 halaman pada sertifikat.
6. Sedangkan di pojok kanan bawah terdapat kotak2 yang berisikan no bidang tanah/ no persil.

B. ISI 
- (Halaman Pertama)

- (Halaman kedua)
- (Halaman ketiga)

- (Halaman keempat)

- (Halaman kelima)


- (Halaman keenam) 

####SEMOGA BERMANFAAT###

Wednesday, September 10, 2014

Kisi-Kisi Tes Komprehensif Teknik Geodesi Undip


Sebelum kita bahas secara detail mengenai kisi-kisi tes, kita perlu tahu terlebih dahulu mengenai tes komprehensif  itu sendiri. Setelah tanya sama mbah google tentunya, Tes Komprehensif adalah ujian untuk mengetahui tingkat kemampuan secara menyeluruh materi yang telah diberikan kepada mahasiswa selama masa perkuliahan. Ujian ini biasanya dilaksanakan setelah mahasiswa telah mengambil  semua mata perkuliahan.Dan dikampus saya dulu, tes ini ini juga digunakan sebagai syarat untuk melakukan seminar proposal TA dan seminar Hasil TA. Jadi jika ingin memulai skripsi harus lulus terlebih dahulu pada tes ini. Seperti itulah sedikit gambaran singkat mengenai tes komprehensif  yang dikenal juga dengan istilah ujian kompre.

Kini setelah lulus pun ternyata model tes ini kembali di lakukan khususnya yang akan mendaftar CPNS. Kebetulan saat ini saya sedang mengikuti tes CPNS di BIG (Badan Informasi Geospasial), sebagai para geodet kawan-kawan pasti tidak asing lagi dengan instansi satu ini, karena banyak sekali lulusan geodesi yang bekerja di instansi ini. Pada tahun 2014 inipun BIG banyak membutuhkan seorang Geodet. Ujian mask pada instansi ini terbagi menjadi 4 tahap yaitu 

1.Tes Administrasi,
2.TKD (Tes Kompetensi Dasar) yang terdiri dari Tes wawasan kebangsaan,Tes Intelegensi Umum dan Tes Karakteristik Pribadi ,
3.TKB (Tes Kompetensi Bidang), Nah disinilah ilmu kita mengenai ke geodesi an akan diuji, setelah mencari informasi dari teman – teman yang telah lulus di BIG duluan. Bentuk soal pada tes ini mirip dengan tes komprehensif saat kuliah. Pada tes ini kita akan bersaing ilmu ke geodesian dengan Geodet lulusan dari Perguruan tinggi yang memiliki jurusan teknik Geodesi seperti UGM, ITB, UNDIP, ITS, ITN.
4.Wawancara

Postingan ini dibuat juga sekaligus untuk belajar penulis. Kalau menurut pengalaman saya saat ujian komprehensif di kuliah dulu bentuk soal berbentuk pilihan ganda dengan soal 100 (kalau gak salah :p). Soal terbagi menjadi banyak kelompok (lupa) menurut ilmu-ilmu yang telah dipelajari saat kuliah. Yaitu (seingat saya) :

1.Ilmu Ukur Tanah,
-Kesalahan yang terjadi pada bacaan sudut horisontal theodolit merupakan kesalahan? Baca disini...!!!
Pilihan:
Kolimasi = Kesalahan untuk bacaan horizontal  (Jawaban)
Indeks = Kesalahan untuk bacaan vertikal
-Kesalahan Kolimasi pada alat theodolit dapat diminimalisir dengan cara? Baca disini...!!!
Pilihan:
Pengukuran sudut dilakukan dengan posisi teropong biasa dan luar biasa
-Kesalahan yang terjadi pada pekerjaan sipat datar menggunakan waterpass adalah ? Baca disini...!!!
Pilihan:
Kesalahan nol rambu, kesalahan besar (blunder) kesalahan indeks, kesalahan akibat refraksi atmosfer.
-Pada pengukuran poligon tertutup diukur sudut luar. Apabila banyaknya n, maka jumlah sudut luar yang memenuhi syarat geometris adalah? Baca disini...!!!
Pilihan:
Jumlah sudut luar poligon tertutup = (n+2) x 180d
Jumlah sudut dalam poligon tertutup = (n-2) x 180d
-Menghitung Azimuth dengan diketahui azimuth awal dan sudut poligon. Baca disini...!!!
-Rumus Trigonomentri untuk menentukan beda tinggi (Trigonometri leveling) dengan thedolit. Baca disini...!!!
-Rumus menghitung koordinat pada polygon beserta koreksi sudut dan koreksi sumbu x,y. Baca disini...!!!
-Rumus menghitung beda tinggi dengan waterpass beserta rumus koreksinya. Baca disini...!!!

2.Pemetaan Digital
-Kelebihan data TS. Baca disini...!!!
Pilihan: kemampuan untuk menggambarkan permukaan yang lebih baik, mudah untuk menyimpan data, integrasi yang mudah dengan, menyajikan permukaan yang lebih halus.
-Hal – hal yang berkaitan dengan model TIN. Baca disini...!!!
Pilihan: vertek TIN didistribusikan bervariasi berdasarkan pada algoritma, memerlukan banyak storage data untuk penyimpanan datanya, kemudahan dalam pemodelan 3D, Cocok untuk aplikasi GIS terutama yang berkaitan dengan kemiringan, memiliki algoritma yang cukup rumit.
-Pendekatan yang dapat dilakukan terhadap formasi TI. Baca disini...!!!
Pilihan: Pendekatan Dinamis, Pendekatan Statis, Pendekatan stokastik, Pendekatan deterministic.
-Prinsip formasi TIN.
Pilihan: Prinsip empty circumcicle, Prinsip Local Equiangularity (Prinsip sudut MAX-MIN), Prinsip the minimum sum distance, Prinsip the minimum circum scribing circle radius,Prinsip Minimum least square.
-Tahap pembentukan Triangulasi Delaunay. Baca disini...!!!
Pilihan: setiap set segitiga dapat membangun satu lingkaran, Tidak ada data lain dalam suatu lingkaran yang terbentuk dari 3 titik, Tidak diperlukan penentuan titik start dan basis segitiga, Equangularity lokal dimana sudut yang bersebelahan memiliki besar, Diperlukan penukaran garis hubung pada jaring agar sudut setiap relatif sama.
-Konsep interpolasi IDW dan Cringing. Baca Disini...!!!
-Menentukan gambar yang merupakan interpolasi bilinear. Baca disini...!!!
-Yang mendasari penggunaan Triangulary Delaunay. Reading here...!!!
Pilihan: Pencarian poin biasanya tidak efisien, lebih efektif jika digunakan pada daerah yang luas, titik yang memiliki nilai ekstrim digunakan sebagai start point, menggunakan memori yang lebih sedikit, hasil memberikan penyajian yang lebih halus.
-Langkah- langkah melakukan Contrain Delaunay Triangulation. Lihat disini...!!!

3.Proyeksi Geodesi
-Teori tentang eksentrisitas pertama ellips. Lihat disini...!!!
Pilihan: perbandingan jarak focus dengan setengah sumbu pendeknya, perbandingan jarak focus dengan setengah sumbu panjangnya, kuadrat dari perbandingan jarak focus dengan setengah sumbu pendeknya, kuadrat dari perbandingan jarak focus dengan setengah sumbu panjangnya, penggepengan ellipsoid.
-Parameter utama ellipsoid sebagai datum geodesi. Baca disini...!!!
Pilihan: Sumbu panjang, sumbu pendek, penggepengan, eksentrisitas, kecepatan sudut bumi, konstanta gravitasi, focus.
-Jumlah irisan normal ellipsoid pada sebuah titik di permukaan nya. Download disini...!!!
-Kesalahan/koreksi yang disebab kan oleh tidak berimpitnya arah vektor gaya pada ellipsoid
Pilihan: Koreksi irisan normal, efek defleksi vertical, skew normal correction, terrain correction, distorsi peta. Download disini...!!!
-Reduksi/koreksi data sudut ukuran ke permukaan ellipsoid akibat permukaan ellipsoid tidak terletak pada bidang normal yang sama apabila Download disini...!!!
-Transformasi Koordinat di atas permukaan ellipsoid WGS 84. Baca disini...!!!
-Menghitung jarak dengan cara Teori Erastothenes dalam mengukur keliling bumi. Baca disini...!!!

4.Proyeksi Peta
-Origin pada sistem koordinat Mercator Indonesia
-Sifat proyeksi Mercator
-Transformasi jarak di garis equator 200Km, maka jarak kedua titik di atas Peta Mercator
Pilihan: 199.92 Km, 200 Km, 200.02 Km, 200.01 Km.
-Sifat – sifat proyeksi polyeder
-Konsep Faktor skala yang dimiliki UTM
-Sifat – sifat proyeksi transverse Mercator
-Menghitung Transformasi Koordinat geodetis menjadi koordinat UTM
-Menghitung Transformasi koordinat UTM menjadi koordinat geodetis

5.Penginderaan Jarak Jauh
-Definisi citra digital secara matematis
-Tujuan umum pengolahan citra
-Spektrum gelombang elektromagnetik yang digunakan untuk merekam citra sesuai kenampakan asli
Pilihan: Radio, Microwave, Infrared, Visible
-Panjang gelombang yang dimiliki yang dimiliki spectrum gelombang elektromagnetik visible
Pilihan: 1 mm – 1 m, 0.4 mikrom – 0.7 mikrom, 0.1 mikrom – 0.8 mikrom, 0.1 mikrom – 0.3 mikrom.
-Ukuran matriks citra (diketahui gambar matriks citra)
Pilihan: 5 x5 , 5x4, 4x4
-Nilai / value pada fungsi (4,2) (baris, kolom)
-Letak nilai / value 54 dinyatakan fungsi matematis
-Kemungkinan warna skala keabuan pada citra digital 4  bit
-Kombinasi yang mungkin terjadi dari warna dasar RGB 8 bit

6. Survey GPS / Satelit
-  Pemahaman / fakta tentang GPS, VLBI, dan SLR
-  Menyebutkan 3 Komponen GNSS sehingga dapat menghasilkan data yang akurat dan dapat dipercaya
- Dasar Penggunaan istilah Pseudorange
- Menyebutkan parameter yang harus dipecahkan dalam pengukuran GPS secara absolut
- Hal yang menyebabkan pengukuran GPS dikutub menghasilkan ketelitian yang rendah.
- Penyebab komposisi komponen Utara-Selatan lebih teliti dibandingkan komponen posisi Timur-Barat pada pengvukuran GPS
- Manfaat penggunaan double frekuensi pada survey GPS

7. Survey Hidrografi
-  Jenis-jeniss pasut
- Rumus tinggi muka air
- macam macam pekerjaan yang masuk survey hidrografi (pemeruman, pengukuran pasut dll)

8. Foto Udara
- Orientasi yang bertujuan merekontruksi dimensi citra agar sesuai dengan pada saat pemotretan udara
- Keuntungan dari metode fotogrametri digital
- Arti istilah Skala peta  yang diperoleh dari foto udara
- Kesalahan - kesalahan saat pemotretan udara (Tilt, Drift dll)
- Hitungan-hitungan Foto udara (Tinggi terbang)

####SEMOGA SUKSES####

Sunday, July 20, 2014

Peranan ilmu geodesi dan gambaran pekerjaan Surveyor Teknik Geodesi dalam pertambangan


Ada beberapa orang mahasiswa yang memang berniat masuk teknik geodesi memang sudah memiliki keinginan ataupun minat agar nantinya setelah lulus dapat bekerja pada pertambangan. Beberapa orang bahkan beranggapan kerja pada pertambangan dengan bayangan gaji yang melimpah. Di postingan ini saya akan sedikit menguraikan pengetahuan saya yang masih sedikit ini untuk membahas peranan sekaligus gambaran pekerjaan seorang surveyor Teknik Geodesi di pertambangan.
Kita bahas dahulu mengenai ilmu geodesi itu sendiri. Menurut definisi klasik yang dikemukakan oleh F.C. Helmert (1880), geodesi ialah ilmu tentang pengukuran dan pemetaan permukaan bumi. Definisi ini telah mempertahankan keabsahanya sampai sekarang. Dimana dengan dipicu perkembangan eksplorasi pertambangan, geodesi menjalin kerjasama dalam penggunaanya. Yang kemudian memunculkan kegiatan berupa Survey Pemetaan Tambang.

Survey pemetaan tambang merupakan tahapan dalam proses penambangan yang mencangkup beberapa pengukuran, perhitungan dan pemetaan yang dapat membantu untuk menentukan dan merencanakan serta menjelaskan semua informasi yang ada pada setiap tahapan untuk mengeksploitasi dan memanfaatkan mineral / bahan tambang dengan sistem penambangan terbuka dan tertutup. Dalam sistem penambangan baik tambang terbuka maupun tertutup akan selalu di awali dengan pengukuran original atau pembukaan lahan yang nantinya akan menghasilkan Progress.

Pengukuran original merupakan pengukuran setelah pembersihan lahan (Land Clearing) atau dengan kata lain pengukuran pembuka lahan pertama yang nantinya berguna untuk menentukan situasi original yang digunakan sebagai dasar perhitungan volume. Sedangkan pengukuran Progress merupakan pengukuran yang dilakukan dalam waktu tertentu untuk mendapatkan data-data yang digunakan untuk menentukan rencana penambangan serta mengetahui volume material yang telah ditambang dalam kurun waktu tersebut. Biasanya pengukuran progress dilakukan setiap 2 mingguan.
Dalam pelaksanaan pengukuran tersebut, kita perlu mengetahui lebih dahulu boundary yang membatasi daerah yang akan kita ukur. Contoh master plan tahunan.

Garis tersebut merupakan boundary atau poligon dari daerah yang akan dilakukan pengukuran original. Pada pengukuran original, semua detail yang ada dilapangan akan diambil guna perencanaan tambang kedepanya. Pada daerah boundary akan dibuat bench-bench. Gambar diatas memperlihatkan Master plan tahunan, dimana daerah yang berada pada garis boundary akan diselesaikan dalam kurun waktu satu tahun.

Ket: bench merupakan metode penambangan menyerupai tangga atau tingkatan dengan lebar 50-200 meter dan tinggi 5-10 meter. Untuk penambangan ini mengeruk atau mengambil barang tambang seluruh berdasarkan tingkatan-tingkatan dari yang paling tinggi ke paling rendah supaya barang tambang tersebut habis sampai dasar dan merata. Metode ini melihat kadar kandungan bahan tambangnya, misalnya nikel dan yang tidak mengandung kadar nikel maka tetap dikeruk hanya saja akan dibuang ketempat penampungan khusus yaitu sebagai urugan atau timbunanjalan di tambang. Metode ini sangat baik karena memudahkan untuk reklamasi tanaman yang akan di tanam setelah dilakukan penambangan atau pengambilan nikelnya.
Setelah pengukuran original selesai dilaksanakan, maka akan dilanjutkan dengan pengukuran Progress dimana untuk mempermudah dan agar lebih tertata rapi maka dari master plan tahunan dibuat rencana progress bulanan. Berikut contoh masterplan bulanan.

Dari gambar memperlihatkan rencana bulanan dari master plan tahunan yang diberikan. Dengan membuat rencana bulanan, maka pelaksanaan pengukuran akan lebih terorganisir dan rapi, sehingga akan ada terget-target yang akan diseleseikan dalam setiap bulannya. Dari rencana tersebut dibagi menjadi 12 daerah dimana setiap daerah ditargetkan selesai dalam satu bulan.
Dari rencana bulanan tersebut, saya ambil contoh rencana bulan V. Rencana bulan lima diperlihatkan gambar sebagai berikut.

Dari rencana-rencana yang telah disusun diatas, maka akan dilakukan kegiatan penambangan. Tahapan-tahapan kegiatan mulai Land Clearing sampai Dumping, adalah sebagai berikut:
1. Pembersihan Lahan
2. Pengupasan tanah penutup (Stripping Over Burden dan Interburden) itu kegiatan ini juga bertujuan untuk pembuatan jenjang-jenjang bench pada lereng (slope). Hal ini dilakukan untuk mengurangi beban yang menumpu pada lapisan tanah yang belum digali sehingga mencegah terjadinya kelongsoran.
3. Pemuatan dengan Alat gali muat (Loading)
4. Pengangkutan dengan alat angkut (Hauling)
5. Dumping dan Spreading di disposal
 

Monday, June 30, 2014

Pemanfaatan Ilmu Geodesi untuk Menentukan Arah Kiblat

Kita atau saya sendiri sebagai pribadi sering kali tidak dapat menggunakan ilmu yang telah kita punya agar bermanfaat untuk orang lain. Saya sebagai mahasiswa teknik geodesi dari awal kuliah sudah diajarkan alat berupa theodolit kemudian total station. Mungkin hanya berpikiran kita belajar tersebut hanya untuk melakukan pengukuran atau pemetaan dalam konteks pekerjaan saja. Tetapi sebenarnya masih dapat digunakan untuk diterapkan pada hal lain yang dapat berguna untuk orang banyak tentunya.
Dalam posting ini saya akan sedikit menjabarkan kembali ilmu tentang menentukan arah kiblat dengan menggunakan theodolit yang diajarkan oleh Akhmad Syaikhu. Sebenarnya posting seperti ini juga telah banyak di internet. Tapi gak apa-apalah buat belajar lagi. Semoga bermanfaat untuk saya sendiri atau orang lain tentunya.

Dalam ranah praktis, metode penentuan arah kiblat dari masa ke masa mengalami perkembangan, dari metode tradisional yang hanya memakai tongkat istiwa sampai dengan metode modern berbasis citra satelit seperti qibla locator, google earth, dan lain-lain. Di samping itu, dari segi teori penentuan arah kiblat tidak hanya dapat diperhitungkan dengan menggunakan teori trigonometri bola, kerangka teori keilmuan yang lain seperti geodesi dapat digunakan pula untuk menghitung azimuth kiblat dengan pendekatan bentuk Bumi sebagai ellipsoid, dan juga teori navigasi. Hal ini menunjukkan bahwa metode penentuan arah kiblat dapat diperhitungkan dengan banyak teori dalam aplikasinya.
Pada dasarnya yang dimaksud dengan kiblat adalah Ka’bah di Mekah yang berada pada titik koordinat 21 derajat 25’ 21.17” LU dan 39 derajat 49’ 34.56” BT. Jika ditinjau dari segi bahasa, kiblat bermakna hadapan, dan juga dapat berarti pusat pandangan. Menurut Warson Munawir (1989: 1088 dan 770), secara etimologis kata kiblat sama dengan “arah menghadap” yang dalam bahasa Arab disebut jihat atau syathrah. Penentuan arah kiblat dari suatu tempat dapat dilakukan dengan membuat garis penghubung di sepanjang permukaan bumi dengan prinsip jarak terdekat, yaitu menggunakan teori trigonometri bola (bola) dan teori geodesi (ellipsoid). Namun demikian, arah kiblat juga dapat menggunakan prinsip sudut arah konstan terhadap titik referensi tertentu (misalnya titik utara) yakni sebagaimana penentuan arah menggunakan teori navigasi.

A. PERSIAPAN
Untuk melakukan pengukuran arah kiblat suatu tempat atau kota dengan alat teodolit dan data astronomis “Ephemeris Hisab Rukyat”, maka yang dilakukan terlebih dahulu adalah:
a. Menentukan kota yang akan diukur arah kiblatnya
b. Menyiapkan data Lintang Tempat dan Bujur Tempat
c. Melakukan perhitungan arah kiblat untuk tempat yang bersangkutan. Data arah kiblat hendaklah diukur dari titik Utara ke Barat (U-B).
d. Menyiapkan data astronomis “Ephemeris Hisab Rukyat” pada hari atau tanggal pengukuran.
e. Membawa jam penunjuk waktu yang akurat
f. Menyiapkan teodolit

B. PELAKSANAAN
Setelah segala sesuatu yang diperlukan seperti di atas sudah tersedia maka pengukuran arah kiblat dengan teodolit dilakukan dengan langkahlangkah sebagai berikut :
a.) Pasang teodolit pada penyangganya
b.) Periksa waterpass yang ada padanya agar teodolit benar-benar datar
c.) Berilah tanda atau titik pada tempat berdirinya teodolit (misalnya T)
d.) Bidiklah matahari dengan teodolit
Note : Untuk langkah membidik matahari ini ada tekniknya gan, gak boleh kita langsung membidiknya,karena dapat merusak mata pengukur ini disebabkan karena pada alat theodolit terdapat lensa yang memfokuskan cahaya matahari. Oleh karena itu kita dapat menggunakan bayangan matahari yang telah di fokuskan melalui lensa okuler pada theodolit, bayangan matahari disorotkan pda media kertas di belakang lensa okuler.
e.) Kuncilah teodolit (dengan skrup horizontal clamp dikencangkan) agar tidak bergerak.
f.) Tekan tombol “0-Set” pada teodolit, agar angka pada layar (HA=Horisontal Angle) menunjukkan 0 (nol).
g.) Mencatat waktu ketika membidik matahari tersebut jam berapa (W). Akan lebih baik dan me mudahkan perhitungan selanjutnya apabila pembidikan matahari dilakukan tepat jam. (misalnya 09.00 WIB tepat).
h.) Mengkonversi waktu yang dipakai dengan GMT (misalnya WIB dikurangi 7 jam, WITA dikurangi 8 Jam dan WIT dikurangi 9).
i.) Melacak nilai Deklinasi Matahari pada waktu hasil konversi tersebut (GMT) dan nilai equation of time (e) saat Matahari berkulminasi (misalnya pada jam 5 GMT) dari Ephemeris.
j.) Menghitung waktu Meridian Pass (MP) pada hari itu dengan rumus:
k.) Menghitung sudut waktu (t0) dengan rumus:
l.) Menghitung Azimuth Matahari (A0) dengan rumus:
m.) Arah Kiblat (AK) dengan teodolit adalah:
1- Jika deklinasi matahari positif (+) dan pembidikan dilakukan sebelum Matahari berkulminasi maka AK = 360 – A0 – Q.
2- Jika deklinasi matahari positif (+) dan pembidikan dilakukan sesudah Matahari berkulminasi maka AK = A0 – Q.
3- Jika deklinasi matahari negatif (-) dan pembidikan dilakukan sebelum Matahari berkulminasi maka AK = 360 – (180-A0) – Q.
4- Jika deklinasi matahari negatif (-) dan pembidikan dilakukan sesudah Matahari berkulminasi maka AK = 180 – A0 – Q.
n.) Bukalah kunci horizontal tadi (kendurkan skrup horizontal clamp)
o.) Putar teodolit sedemikian rupa hingga layar teodolit menampilkan angka senilai hasil perhitungan AK tersebut. Apabila teodolit diputar ke kanan (searah) jarum jam) maka angkanya semakin membesar (bertambah). Sebaliknya jika teodolit diputar ke kiri (anti jarum jam) maka angkanya semakin mengecil (berkurang).
p.) Turunkan sasaran teodolit sampai menyentuh tanah pada jarak sekitar 5 meter dari teodolit. Kemudian berilah tanda atau titik pada sasaran itu (misalnya titik B).
q.) Hubungkan antara titik sasaran (B) tersebut dengan tempat berdirinya Teodolit (A) dengan garis lurus atau benang.
r.) Garis atau benang itulah arah kiblat untuk tempat bersangkutan.

C. CONTOH PERHITUNGAN ARAH KIBLAT SEMARANG
a. Menentukan arah kiblat Semarang (Q)
1) Identifikasi data
       a) Kakbah Lintang : 21° 25’ 25” (LU)
                        Bujur     : 39° 49’ 39” (BT)
       b) Semarang Lintang : -07° (LS)
                            Bujur     : 110° 24’ (BT)
c) Unsur-unsur
      (1) Nilai a = 90° – (-07°) = 97°
      (2) Nilai b = 90° - 21° 25’ 25” = 68° 34’ 35”
      (3) Nilai C = 110° 24’ - 39° 49’ 39” = 70° 34’ 21”
2) Perhitungan
          Cotan Q = sin a cotan b : sin C – coa a cotan C
                        = sin 97° x cotan 68° 34’ 35” : sin 70° 34’ 21” – Cos 97° x cotan 70° 34’ 21”
                    Q = 65° 29’ 23.18”
b. Pengukuran Arah Kiblat dengan Teodolit
1) Identifikasi Data yang Diketahui
     a) Lokasi yang diukur    : Semarang
     b) Lintang Tempat         : -07° (LS)
     c) Bujur Tempat             : 110° 24’ (BT)
     d) Arah Kiblat (Q)         : 65° 29’ 23.18” (dari titik Utara ke Barat)
     e) Tanggal Pengukuran  : 8 Oktober 2010
     f) Waktu Pembidikan (W) jam 14:30 WIB atau 07:30 GMT
     g) Deklinasi Matahari  jam 14:30 GMT:
            Jam 14 :00 WIB = Jam 7 : 00 GMT = -5º 52 ‘ 11”
                                       = Jam 8 : 00 GMT = -5º 53 ‘ 08” -
                                                                           00º 0’ 57” x 0:30:00
                                                                      =   00º 00’ 28.5”
        Deklinasi Matahari = -5º 29 ‘ 15” - 00º 00’ 28.5”
                                       = -5º 29’ 43.5”
        Catatan:
        Ingat Rumus Interpolasi = A – (A-B)xC/1
                                        = -5º 52 ‘ 11” – (-5º 52 ‘ 11”- -5º 53 ‘ 08”) x 0º 30’ 00” /1
                                        = -5º 29’ 43.5”
        Deklinasi matahari jam 14° 30’ 00” WIB = -5º 29’ 43.5”
     h) Equation Of Time (e) jam 05 GMT = 00j 12m 21d

2) Mencari Meridian Pass (MP)
     MP = ((105 - bujur) : 15) + 12 – e
            = ((105 - 110° 24’) : 15) + 12 – 00j 12m 21d
     MP = 11° 26’ 03”
3) Mencari Sudut Waktu
     Sudut Waktu (t0)  = (MP-W) x 15
                                  = (11° 26’ 03” – 14j 30m) x 15
                           (t0) = -45° 59’ 15”
4) Mencari Azimuth (A0)
    Cotg A0 = [((cos (lintang) tan (deklinasi) : sin t0)-(sin (lintang) : tan t0)]
                  = (cos -07° x tan -5º 29’ 43.5” : sin -45° 59’ 15”) - (sin -07° : tan -45° 59’ 15”)
            A0 = 89° 08’ 18.61” (harga mutlak)
5) Mencari Arah Kiblat pada Teodolit

-Arah Kiblat pada teodolit (AK)
Karena pada waktu itu Deklinasi Matahari  negatif (-) dan pembidikan dilakukan setelah Matahari berkulminasi maka :
      AK = 180 – A0 – Q
             = 180 - 89° 08’ 18.61” - 65° 29’ 23.18”
      AK = 25° 22’ 18.21”
Kemudian Teodolit diputar sedemikian rupa hingga layar teodolit (HA) menampilkan angka 25° 22’ 18.21” Seterusnya, lihat langkah-langkah di atas.
6) Mencari Titik Utara Sejati
Karena membidik pada sore hari (pukul 14.30 WIB) maka utara sejati adalah:
180 - 25° 22’ 18.21” = 154° 37’ 41.7”

 Untuk mendapatkan perhitungan dengan tingkat ketelitian yang lebih tinggi perlu dilakukan koreksi ellipsoid bumi, karena rumus spherical triangel berlaku dipermukaan bola. Koordinat lintang Kota Semarang setelah dilakukan koreksi Ellipsoid adalah 65° 38’ 30” dihitung dari titik utara sejati ke arah barat atau 24° 21’ 30” dari titik Barat ke Utara.
1 Pengukuran Arah Kiblat dengan Teodolit
Identifikasi Data yang Diketahui
a) Lokasi yang diukur  : Semarang
b) Lintang Tempat       : -07° (LS)
c) Bujur Tempat           : 110° 24’ (BT)
d) Arah Kiblat (Q)       : 65° 38’ 30” (dari titik Utara ke Barat)
e) Tanggal Pengukuran   : 8 Oktober 2010
f) Waktu Pembidikan (W) jam 14:30 WIB atau 07:30 GMT
g) Deklinasi Matahari jam 14:30 GMT:
                                    Jam 14 :00 WIB = Jam 7 : 00 GMT = -5º 52 ‘ 11”
                                                               = Jam 8 : 00 GMT = -5º 53 ‘ 08” -
                                                                                              = 00º 0’ 57”    x 0:30:00
                                                                                              = 00º 00’ 28.5”
          Deklinasi Matahari = -5º 29 ‘ 15” - 00º 00’ 28.5” = -5º 29’43.5”
h) Equation Of Time (e) jam 05 GMT = 00j 12m 21d
          Mencari Meridian Pass (MP)
          MP = ((105 - (bujur)) : 15) + 12 – e
                 = ((105 - 110° 24’) : 15) + 12 – 00j 12m 21d
          MP = 11° 26’ 03”
- Mencari Sudut Waktu
Sudut Waktu (t0)  = (MP-W) x 15
                             = (11° 26’ 03” – 14j 30m) x 15
                       (t0) = -45° 59’ 15”
- Mencari Azimuth (A0)
Cotg A0  = [((cos (lintang) tan (deklinasi) : sin t0)-(sin (lintang) : tan t0)]
               = (cos -07° x tan -5º 29’ 43.5” : sin -45° 59’ 15”) - (sin -07° : tan -45° 59’ 15”)
          A0 = 89° 08’ 18.61” (harga mutlak)
- Mencari Arah Kiblat pada Teodolit
Arah Kiblat pada teodolit (AK), Karena pada waktu itu Deklinasi Matahari negatif (-) dan pembidikan dilakukan setelah Matahari berkulminasi maka :
AK  = 180 – A0 – Q
       = 180 - 89° 08’ 18.61” - 65° 38’ 30”
AK = 25° 13’ 11.39”
Kemudian Teodolit diputar sedemikian rupa hingga layar teodolit (HA) menampilkan angka 25° 13’ 11.39”
- Mencari Titik Utara Sejati
Karena membidik pada sore hari (pukul 14.30 WIB) maka utara sejati adalah: 180 - 25° 13’ 11.39” = 154° 46’ 48.6”

Penentuan arah kiblat dengan teodolit jika dikerjakan dengan baik akan menghasilkan pengukuran yang sangat teliti. Pada jenis teodolit tertentu tingkat ketelitiannya adalah 5 detik busur dan bahkan ada yang 1 detik busur. Apalagi jika didukung perhitungan dengan ketelitian yang lebih baik. Dalam tulisan ini dapat dibandingkan perhitungan sudut arah kiblat kota Semarang, jika menggunakan sistem koordinat geografik dan sistem koordinat ellipsoid, maka sudut arah kiblat yang dihasilkan pada hari, tanggal dan jam bidik di atas terdapat perbedaan, yaitu: azimuth kiblat pada sistem koordinat geografik 154° 37’ 41.7”, sedangkan pada sistem koordinat ellipsoid adalah 154° 46’ 48.6”. Jika yang diinginkan tingkat akurasi yang lebih baik, penulis merekomendasikan hasil yang kedua


>>>>HEBATNYA NIH<<<<

Pertanyaanya yang sering muncul kemudian. Lalu bagaimana untuk masjid yang susah untuk melakukan penentuan atau untuk mengkoreksi kiblatnya, mungkin mereka tidak paham atau tidak mampu melakukan pengukuran dengan theodolit atau metode yang lainya???
Padahal Penentuan arah qiblat yang tepat sangat penting kerana ia merupakan syarat sah solat solat fardhu atau sunnat.  Jadi ummat ISLAM mesti memastikan kedudukan arah qiblatnya tepat mengadap Ka’bah.


Allahu Akbar... 

Ada sebuah fenomena alam yang dinamakan Istiwa A'zam. Fenomena atau peristiwa apabila kedudukan matahari akan berada tepat ( tegak ) di atas kaabah dikenali sebagai Isitiwa Matahari atau Istiwa A'zam. Fenomena ini hanya berlaku pada 2 kali setiap tahun yaitu pada petang hari tanggal 28 Mei dan 16 Juli. Pada ketika ini, matahari akan berada tepat di atas kaabah ketika waktu tengah hari di Mekah.

Inilah waktu di mana Matahari memerankan dirinya sebagai penjaga kiblat (qibla-keeping) sehingga setiap titik di muka Bumi yang tersinarinya dapat menyejajarkan arah kiblat setempatnya dengan leluasa. Peran ini sebenarnya juga bisa dilakukan oleh Bulan mau pun benda langit lainnya seperti planet-planet dan bintang-bintang tertentu. Namun, dengan dominasi Matahari sebagai pusat tata surya sekaligus benda langit terbenderang bagi Bumi,  kedudukan Matahari sebagai penjaga kiblat jauh lebih menonjol.
(Baru Tau Kenapa di Setiap Masjid Di Depannya Selalu ada Jendela Kaca)

Maha suci Allah Ta’ala dengan segala ciptaannya.

####SEMOGA BERMANFAAT####