Sunday, June 5, 2016

Perencanaan dan Pengolahan Data pada Survey GPS Metode Jaring Part1

Dalam penggunaannya GPS dapat digunakan  secara  absolut, yaitu metode penentuan posisi dengan hanya menggunakan satu buah receiver GPS/GNSS. Namun   metode   ini hanya memberikan ketelitian dengan kisaran 3 s.d10  m  (Abidin,  2006).  Ketelitian  tersebut dapat  ditingkatkan  dengan  menggunakan metode  diferensial.  Pada  penentuan  posisi secara  diferensial, posisi suatu titik (rover) ditentukan relatif terhadap titik lainnya yang telah diketahui koordinatnya (stasiun referensi/base)


Pada metode diferensial, dilakukan pengurangan data yang diamati oleh dua receiver GPS pada waktu yang sama (bertampalan) yang bertujuan untuk mereduksi dan menghilangkan beberapa jenis kesalahan dan bias data GPS. Pereduksian  dan pengeliminasian kesalahan dan bias ini akan meningkatkan akurasi dan presisi data sehingga akan meningkatkan tingkat akurasi dan presisi posisi yang diperoleh dengan kisaran mm sampai dengan sentimeter. Metode penentuan posisi secara diferensial statik adalah penentuan posisi titik -titik yang diam (statik) dalam jangka waktu tertentu tergantung jarak antara base dan rover sehingga ukuran lebih pada suatu titik pengamatan yang diperoleh dengan penentuan posisi statik biasanya lebih banyak. Hal ini menyebabkan tingkat ketelitian posisi yang didapatkan umumnya relatif tinggi (dapat mencapai orde mm). Pada prinsipnya, Metode GPS statik dilakukan dengan  menggunakan metode penentuan posisi statik secara diferensial dengan menggunakan data fase. Dalam hal ini pengamatan satelit GPS  umumnya dilakukan baseline per baseline selama selang waktu tertentu (beberapa puluh menit sampai beberapa jam tergantung tingkat  ketelitian  yang diinginkan) dalam suatu jaringan (kerangka) dari titik-
titik yang akan ditentukan posisinya. Aplikasi utama dari survey GPS adalah untuk penentuan titik-titik ikat pemetaan berketilitian tinggi. Berikut diberikan karakteristik tentang survey GPS diferensial statik (Abidin, 2006):


1.Metode penentuan posisi yang digunakan adalah metode penentuan posisi secara diferensial.
2.Diperlukan minimal dua buah receiverGPS tipe geodetik (diutamakan dual frekuensi)
3.Penentuan posisi sifatnya statik (titik-titik yang akan ditentukan posisinya tidak bergerak).
4.Data pengamatan yang digunakan untuk penentuan posisi adalah data fase.
5.Pengolahan data umumnya dilakukan secara post-processing
6.Antar titik tidak perlu untuk saling “bisa terlihat”,  yang terpenting adalah setiap titik bisa “melihat” satelit.

7. Umumnya jaringan dibangun sesi persesi dari pengamatan baseline selama selang waktu tertentu.
8.Pelaksanaan sesi pengamatan suatu baseline sifatnya berdiri sendiri.

Survei penentuan posisi dengan metode GPS statik dapat dilaksanakan dalam metode jaring dan metode radial. Pemilihan kedua metode tersebut akan mempengaruhi ketelitian posisi titik  yang diperoleh, waktu penyelesaian survei, serta biaya operasional survei. metode radial umumnya menghasilkan tingkat  ketelitian posisi yang rendah, namun waktu survei lebih cepat yang  berdampak  pada biaya operasional yang lebih rendah dibandingkan dengan metode jaringan.

Berikut contoh kasus Survey GPS metode jaring. :

PERENCANAAN

1. Contoh Posisi dan letak titik kontrol yang akan diukur


2. Titik kontrol yang digunakan adalah titik BSBY, dan nantinya akan didapatkan 12 baseline bebas. Dengan catatan jarak antar titik tidak lebih dari 20 Km.


Dan dalam metode jaring kita menghindari baseline trivial. Baseline trivial adalah baseline yang dapat diturunkan dari baseline - baseline lainnya dari satu sesi pengamatan. Pada satu sesi pengamatan , jika ada n receiver yang beroperasi secara simultan maka hanya akan memiliki ( n - 1 ) baseline bebas. Set dari (n - 1) baseline bebas yang akan digunakan akan mempengaruhi kualitas dari posisi titik yang diperoleh .
Misalkan dengan 4 GPS Geodetik maka baseline bebas nya sebanyak ( n - 1 ) = (4 - 1 ) = 3.

3. Kita bisa buat strategi pengamatan seperti ini, mobilitas GPS.
- Sesi 1 untuk memperoleh 3 baseline BSBY-SBY18, BSBY-SBY19, BSBY-SBY20

- Sesi 2 untuk memperoleh 3 baseline SBY18-SBY19, SBY19-SBY20,
SBY20-SBY13.
> Gps 3 berpindah dari titik BSBY ke titik SBY13

- Sesi 3 untuk memperoleh 3 baseline SBY13-SBY14, SBY14-SBY15, SBY15-SBY18.
> Gps 2 berpindah dari titik SBY19 ke titik SBY15 dan GPS4 berpindah dari titik SBY20 ke titik SBY14

- Sesi 4 untuk memperoleh 3 baseline BSBY-SBY14, BSBY-SBY15, BSBY-SBY13.
> Gps 1 berpindah dari titik SBY18 ke titik BSBY

- Sesi 1
> GPS 1 pengmatan di titik BSBY jam 08-00 sampai jam 10.00
> GPS 2 pengamatan di titik SBY18 jam 08-00 sampai jam 10.00
> GPS 3 pengamatan di titik SBY19 jam 08-00 sampai jam 10.00
> GPS 4 pengamatan di titik SBY20 jam 08-00 sampai jam 10.00

- Sesi 2
> GPS 1 pengmatan di titik SBY18 jam 10-30 sampai jam 12.30
> GPS 2 pengamatan di titik SBY19 jam 10-30 sampai jam 12.30
> GPS 3 pengamatan di titik SBY20 jam 10-30 sampai jam 12.30
> GPS 4 pengamatan di titik SBY13 jam 10-30 sampai jam 12.30
- Sesi 3
> GPS 1 pengmatan di titik SBY13 jam 13-00 sampai jam 15.00
> GPS 2 pengamatan di titik SBY14 jam 13-00 sampai jam 15.00
> GPS 3 pengamatan di titik SBY15 jam 13-00 sampai jam 15.00
> GPS 4 pengamatan di titik SBY18 jam 13-00 sampai jam 15.00

- Sesi 4
> GPS 1 pengmatan di titik SBY13 jam 15-30 sampai jam 17.30
> GPS 2 pengamatan di titik SBY14 jam 15-30 sampai jam 17.30
> GPS 3 pengamatan di titik SBY15 jam 15-30 sampai jam 17.30
> GPS 4 pengamatan di titik BSBY jam 15-30 sampai jam 17.30

PENGOLAHAN

4. Download data RINNEX hasil pengamatan GPS untuk di import dan diolah dalam software.


5. Pengikatan ke BM BIG (Badan Informasi Geospasial)
- Download Koordinat base sesuai Jaring Kontrol BIG (BSBY) -> http://srgi.big.go.id/peta/jkg.jsp


- Klik kanan pada point BSBY pilih propertis dan ubah point class menjadi control dan input kan koordinat. Standar devisasi jadikan 0.


####SEMOGA BERMANFAAT####

0 comments:

Post a Comment