Friday, January 23, 2015

Teknik Pengkuran Resection ( Pengikatan Ke belakang ) dengan Total Station ( Leica Viva TS11 ) Part1

Haloo para geodet... pada posting ini saya akan menuliskan tentang salah satu materi IUT ( ilmu ukur tanah ) yang saya pelajari saat kuliah dulu, meski saya sendiri juga belum begitu menguasai ilmu ini. Jika di ingat-ingat, nilai mata kuliah saya dulu juga hanya mendapatkan nilai C. Dan saya sebenarnya juga kurang tertarik, namun kini pekerjaan mengharuskan saya mempelajari kembali materi ini.


Survey untuk penentuan posisi dari suatu jaringan titik di permukaan, dapat dilakukan secara terestris maupun ekstra terestris. Pada survey dengan metod terestris, penentuan posisi titik-titik dilakukan dengan melakukan pengamatan terhadap target atau objek yang terletak di permukaan bumi. Dalam hal ini, metode-metode penentuan posisi terestris yang umumnya digunakan saat ini adalah metode poligon, metode pengikatan kemuka ( intersection ) dan pengikatan kebelakang ( resection ), atau kombinasi antara metode-metode tersebut. Namun mengingat luasnya materi dan pengetahuan saya, pada posting ini saya hanya membahas tentang pengikatan kebelakang ( resection ).

pengikatan kebelakang ( resection )

Pengikatan ke belakang adalah suatu metode penentuan posisi sebuah titik terhadap dua buah atau lebih titik yang diketahui koordinatnya. Bedanya dengan pengikatan ke muka adalah pada metode ini alat berdiri pada titik yang akan ditentukan posisinya. Sudut yang diukur adalah sudut alfa dan beta. Ada beberapa metode penghitunganya yang populer yaitu metode Collins dan Cassini.

Cara pengikatan ke belakang metode Collins merupakan salah satu model perhitungan yang berfungsi untuk menentukan suatu titik koordinat, yang dapat dicari dari titik-titik koordinat lain yang sudah diketahui, dengan cara pengikatan ke belakang. Metode ini di temukan oleh Mr.Collins tahun 1671. Pada saat itu alat hitung masih belum berkembang sehingga menggunakan bantuan logaritma dalam perhitungannya. Oleh karena itu cara pengikatan ke belakang yang dibuat oleh Collins dikenal dengan nama metode logaritma. Akan tetapi pada pengolahan data perhitungan pada saat ini, dapat dibantu dengan mesin hitung atau kalkulator, sehingga lebih mudah dalam pengolahannya. Dalam pelaksanaan pekerjaan survei atau pengukuran tanah di lapangan biasanya terdapat kendala-kendala yang dihadapi, diantaranya adalah keadaan alam dan kontur permukaan bumi yang tidak beraturan.

Terdapat berbagai kondisi alam seperti bukit, lembah, sungai, gunung dan lain sebagainya pada permukaan bumi. sehingga dapat ditentukan jenis pengukuranapa yang dapat dipakai sesuai dengan kondisi alam tersebut. Seperti dalam menentukan koordinat pada tempat yang terpisah oleh jurang atau sungai yang lebar, dimana titik koordinat di seberangnya telah diketahui. Untuk mengatasi masalah tersebut, seorang surveior dapat menggunakan cara pengikatan ke belakang metode Collins yang dapat dihitung dengan bantuan logaritma atau kalkulator, sehingga koordinat dari titik yang terpisah oleh sungai atau jurang tersebut dapat ditentukan.
 

Resection ( Pengikatan Ke belakang ) #1


 Resection ( Pengikatan Ke belakang ) #2


Pengukuran dengan Total Station
Dari data yang telah tersedia diantaranya adalah koordinat titik A,B dan C, serta sudut alpha dan beta yang diperoleh dari pengukuran di lapangan, selanjutnya menentukan daerah lingkaran yang melalui titik A, B dan P dengan jari-jari tertentu, lingkaran tersebut merupakan suatu cara yang membantu dalam proses perhitungan, yang pada kenyataanya tidak terdapat di lapangan. Titilk C berada di luar lingkaran, tarik garis yang menghubungkan titik P terhadap titik C. Sehingga garis PC memotong lingkaran, titik perpotongan itu kita sebut sebagai titik penolong Collins yaitu titik H.



Titik P kemudian kita cari dengan metode pengikatan ke muka melalui basis AB. Perhitungan diawali terlebih dahulu dengan menghitung koordinat titik penolong H. Setelah diketahui azimuth-azimuth lain maka kita akan memperoleh sudut bantu ˠ. Dari rumus tersebut maka akan diperoleh azimuth AP dan BP. Jarak dap dan dbp di peroleh melalui persamaan sinus sudut terhadap jarak. Titik P selanjutnya di peroleh melalui pengikatan ke muka dari A dan B. Dengan demikian hitungan Collins untuk mengikat cara ke belakang di kembalikan ke hitungan dengan cara ke muka yang harus di lakukan dua kali. Yaitu satu kali untuk mencari koordinat-koordinat titik penolong Collins H dan satu kali lagi untuk mencari koordinatkoordinat titik P sendiri. Untuk menentukan titik penolong Collins H dan titik yang akan dicari yaitu titik P, dapat dicari baik dari titik A atau titik B. Koordinat target dapat di peroleh dari titik A dan B. Absis target sama dengan jarak A terhadap target dikalikan dengan sinus azimuth A terhadap target kemudian ditambahkan dengan absis titik A. Ordinat target sama dengan jarak A terhadap target dikalikan dengan cosinus azimuth A terhadap target ditambahkan dengan ordinat titik A. Absis target sama dengan jarak B terhadap target dikalikan dengan sinus azimuth B terhadap target kemudian di tambahkan dengan absis titik B. Ordinat target sama dengan jarak B terhadap target dikalikan dengan cosinus azimuth B terhadap target kemudian di tambahkan dengan ordinat titik B. Nilai koordinat target merupakan nilai koordinat rata-rata yang di peroleh dari titik A dan B. 


####BERSAMBUNG####

1 comments:

Post a Comment