Sunday, September 7, 2014

Download Titik Kontrol Horizontal Orde 0 dan 1 Dengan Sistem Referensi Geospasial Baru (SRGI 2013)

Seperti yang sudah kita ketahui, jaring kontrol horizontal secara klasifikasi (berdasarkan ordenya) dibagi dari orde 0 sampai dengan orde 4. Pembuatan titik kontrol orde 0 dan orde 1 merupakan kewenangan dari Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional (Bakosurtanal) yang sekarang bertransformasi menjadi Badan Informasi Geospasial (BIG). Sedangkan Orde 2 sampai dengan Orde 4 menjadi kewenangan Badan Pertanahan Nasional (BPN). 


Orde jaring titik kontrol horizontal 
Orde
Jaringkontrol
Jarak (Km)
Kelas
00
Jaring fidusial nasional (Jaring tetapGPS)
1000
AAA
0
Jaring titik kontrol geodetik nasional
500
AA
1
Jaring titik kontrol geodetik regional
100
A
2
Jaring titik kontrol geodetik lokal
10
B
3
Jaring titik kontrol geodetik perapatan
2
C
4
Jaring titik kontrol pemetaan
0.1
D

Koordinat  titik-titik  kontrol  dari  semua  orde  harus  dinyatakan  dalam  sistem referensi koordinat nasional, yang pada saat ini dinamakan Datum Geodesi Nasional 1995 (DGN 95).Dalam  pengadaannya, suatu jaring titik kontrol harus terikat  secara langsung dengan jaring titik kontrol yang ordenya lebih   tinggi. Jaring titik kontrol   pengikat (kerangka referensi koordinat) untuk setiap jaringan adalah seperti yang  dispesifikasikan pada Tabel Kerangka referensi koordinat berikut :  

Jaring
Kerangka referensi
Orde-00
ITRF 2000
Orde-0
minimalOrde-00
Orde-1
minimalOrde-0
Orde-2
minimalOrde-1
Orde-3
minimalOrde-2
Orde-4
minimalOrde-3
Tambahan : ITRF = sistem referensi spasial dunia yang ikut berrotasi dengan Bumi dalam gerakan diurnal di ruang angkasa.

Namun DGN95 merupakan sistem referensi geospasial yang bersifat statis, dimana perubahan nilai koordinat terhadap waktu sebagai akibat dari pergerakan lempeng tektonik dan deformasi kerak bumi, tidak diperhitungkan. Perubahan nilai koordinat terhadap waktu perlu diperhitungkan dalam mendefinisikan suatu sistem referensi geospasial untuk wilayah Indonesia. Hal ini dikarenakan wilayah Indonesia terletak diantara pertemuan beberapa lempeng tektonik yang sangat dinamis dan aktif, diantaranya lempeng Euroasia, Australia, Pacific dan Philipine. Wilayah Indonesia yang terletak pada pertemuan beberapa lempeng inilah yang menyebabkan seluruh objek-objek geospasial yang ada diatasnya termasuk titik-titik kontrol geodesi yang membentuk Jaring Kontrol Geodesi Nasional, juga bergerak akibat pergerakan lempeng tektonik dan deformasi kerak bumi.

 Teknologi penentuan posisi berbasis satelit, seperti GPS (Global Positioning System) dan GNSS (Global Navigation Satellite System), saat ini telah berkembang dengan pesat sehingga memungkinkan untuk digunakan dalam penyelenggaraan kerangka referensi geodetik nasional yang terintegrasi dengan sistem referensi global, serta mampu memberikan ketelitian yang memadai untuk memantau pergerakan lempeng tektonik dan deformasi kerak bumi yang berpengaruh terhadap nilai-nilai koordinat.

Pada 17 Oktober 2013, diluncurkannya Sistem Referensi Geospasial Indonesia 2013 (SRGI 2013). SRGI adalah suatu terminologi modern yang sama dengan terminologi Datum Geodesi Nasional (DGN) yang lebih dulu didefinisikan, yaitu suatu sistem koordinat nasional yang konsisten dan kompatibel dengan sistem koordinat global. SRGI mempertimbangkan perubahan koordinat berdasarkan fungsi waktu, karena adanya dinamika bumi. Secara spesifik, SRGI 2013 adalah sistem koordinat kartesian 3-dimensi (X, Y,Z) yang geosentrik. Implementasi praktis di permukaan bumi dinyatakan dalam koordinat Geodetik lintang, bujur, tinggi, skala, gayaberat, dan orientasinya beserta nilai laju kecepatan dalam koordinat planimetrik (toposentrik).

Secara praktis, perbedaan yang mendasar antara SRGI 2013 dengan DGN 1995 bisa dilihat dalam tabel dibawah ini.


Keterangan
DGN 1995
SRGI 2013
Sifat Sistem Referensi
Static
Memperhitungkan perubahan nilai koordinaat sebagai fungsi waktu
Sistem referensi koordinat
ITRS
ITRS
Kerangka Referensi Koordinat
Jaring Kontrol Geodesi yang terikat pada ITRF 2000
Jaring Kontrol Geodesi yang terikat pada ITRF 2008
Datum Geodetik
WGS 84
WGS 84
Sistem referensi Geospasial vertikal
MSL
Geoid
Sistem akses dan layanan
Tertutup
Tebuka dan self service
sumber : Badan Informasi Geospasial (BIG)

KESIMPULAN : Dengan disahkannya sistem referensi geospasial baru (SRGI 2013), berarti sistem referensi geospasial lama (DGN 1985) sudah tidak berlaku lagi.

Karena sistem akses layanannya bersifat terbuka kita dapat mendownloadnya secara gratis dari web yang dibuat oleh BIG (Badan Informasi Geospasial), berikut langkahnya :

1. Buka Web nya http://srgi.big.go.id/srgi/




2. Pada Sub Menu SRGI > Jaring Kontrol Geodesi


3. Akan terbuka Tampilan berikut. Kemudian Centang (Select Area) dan pilih area yang dikehendaki. Total di Indonesia ada 1000 titik.


4. Sebagai sample, saya akan ambil Titik Kontrol Horizontal yang ada di Kota Semarang dengan Zoom dan Mengarahkan Maps nya terlebih dahulu,


5. Untuk Tampilan Base Map nya pun, dapat diganti dengan Citra Satelit.


6. Kemudian jika ingin mendownload data Titik Kontrol Horizontal tersebut klik "detail"


7. Akan muncul Sub Detail nya berupa Nama dan Koordinat BM. Untuk Keterangan lebih jelasnya dapat didapatkan dengan kembali pilih "detail" > Download



8. Hasilnya,


9. Detail Informasi dapat kita download juga dalam bentuk file excel, dengan klik Download. Berikut Bentuk File dari hasil download.


10. Ini Penampakan Titik Kontrol Horizontal di Lapangan nya

(Titik Kontrol Horizontal N1 0259 di Tugu Muda Semarang)

####SEMOGA BERMANFAAT####

Possting By :

11 comments:

Post a Comment